Friday, March 27, 2009

PENGENALAN

Hubungan sejenis adalah sesuatu perkara yang di tegah sama sekali di dalam agama. Hubungan sejenis ini terbahagi kepada dua iaitu liwat dan musahaqah. Liwat ialah hubungan sejenis antara lelaki dan lelaki atau homoseks manakala musahaqah ialah hubungan antara perempuan dengan perempuan. Dalam istilah lain ia lebih di kenali dengan gay bagi pasangan lelaki dan lesbian bagi pasangan perempuan.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HUBUNGAN SEJENIS

Kebanyakan golongan – golongan ini melakukan perbuatan tersebut adalah disebabkan faktor – faktor yang mempengaruhi mereka. Di sini terdapat beberapa faktor antaranya ialah:

  • Terpengaruh dengan budaya liar
  • Tidak sanggup memikul tanggungjawab suami isteri
  • Membaca atau melihat bahan-bahan lucah
  • Kelemahan pelaksanaan undang-undang

AKIBAT MELAKUKAN HUBUNGAN SEJENIS

Perbuatan ini bukanlah sesuatu yang elok bagi masyarakat Malaysia dan di pandang serong jika kita melakukannya:

  • Akibat jika melakukan liwat & musahaqah :
  • meruntuhkan institusi perkahwinan
  • menghidapi pelbagai penyakit fizikal dan mental
  • mendapat balasan azab di dunia dan akhirat

SEJARAH HUBUNGAN SEJENIS

Luth, Bible dan Sejarah Peradaban

Kalau kita telaah sejarah peradaban manusia, sebenarnya fenomena penyimpangan seksual sudah muncul jauh sebelum masa Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada masa Nabi Luth yang diutus untuk kaum Sadoum. Hampir semua kitab tafsir mengabadikan kisah tersebut ketika menyingkap kandungan ayat-ayat yang berkaitan dengan kisah nabi Luth.

Allah berfirman : Dan Luth ketika berkata kepada kaumnya: mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: ‘Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” [QS Al-A'raaf:80-84].

Allah menggambarkan Azab yang menimpa kaum nabi Luth : “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim” [Hud : 82-83]

Semua ayat di atas secara jelas mengutuk dan melaknat praktik homoseksual karena bertentangan dengan kodrat dan kenormalan manusia.

Perlu diingat, sikap keras melaknat itu bukan hanya pada Islam. Namun juga pada agama Kristen.

Praktik homoseksual juga menjadi momok yang menakutkan di agama Kristen. Bibel menyebutnya sebagai ibadah kafir yang lazim dikenal dengan nama ‘pelacuran kudus’. Ia sangat mengutuk dan mengecam pelakunya karena itu bertentangan dengan moral.

Dalam Perjanjian Baru, Roma 1:26-27, Rasul Paulus mengingatkan, bahwa praktik homoseksual adalah sebagian dari bentuk kebejatan moral dunia kafir, dari mana orang-orang kristen sebenarnya telah dibebaskan dan disucikan oleh Kristus.

Dalam Imamat 20:13 berbunyi : ‘Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri’. Yang melakukannya diancam dengan hukuman mati.

‘Hombreng’ dan Fikih

Dalam khazanah keilmuan islam khususnya fikih, praktik homoseksual dan lesbian ?sering diplesetkan sebagai kaum hombreng mudah dicari rujukannya. Kelainan seksual yang dalam Islam ini sering disebut al faahisyah (dosa besar) yang sangat menjijikkan dan bertentangan dengan kodrat dan tabiat manusia. Oleh karenanya para ulama sangat mengutuk, mengecam dan mengharamkannya.

Kalau ditelusuri secara gramatikal (bahasa) tidak ada perbedaan penggunaan kata antara homoseksual dan lesbian. Dalam bahasa arab kedua-duanya di namakan al liwath. Pelakunya di namakan al luthiy (lotte). Namun Imam Al-Mawardi membedakannya. Beliau menyebut homoseksual dengan liwath dan lesbian dengan sihaq atau musaahaqah. (lihat : al hawi al kabir karya al mawardi : juz :13 hal : 474-475)

Ibn Qudamah Al Maqdisi menyebutkan bahwa penetapan hukum haramnya praktik homoseksual adalah Ijma’ (kesepakatan) ulama, berdasarkan nash-nash Al-Quran dan Al-Hadits. [al mughni juz :10 hal : 155].

Imam Al Mawardi berkata, “Penetapan hukum haramnya praktik homoseksual menjadi Ijma’ dan itu diperkuat oleh Nash-nash Al-Quran dan Al-Hadits. [Kitab Al hawi al kabir, juz :13 hal : 475]

Mereka dalam hal ini berbeda pendapat mengenai jenis dan bentuk hukuman yang dikenakan kepada pelakunya. Itu timbul karena perbedaan dalam meng-interpretasi dalil-dalil yang bersumber dari Al-Quran, Al-Hadits dan Atsar (Fakta sejarah sahabat).

Ayat-ayat di atas (Al A?raf : 80-84 dan Hud : 77-83) secara jelas berisi kutukan dan larangan Allah SWT terhadap pelaku praktik homoseksual. Itu juga diperkuat oleh hadits-hadits berikut:

Hadits riwayat Ibn Abbas : ‘Siapa saja yang engkau dapatkan mengerjakan perbuatan homoseksual maka bunuhlah kedua pelakunya’. [ditakhrij oleh Abu Dawud 4/158 , Ibn Majah 2/856 , At Turmuzi 4/57 dan Darru Quthni 3/124].

Hadits Jabir : “Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth” [HR Ibnu Majah : 2563, 1457. Tirmidzi berkata : Hadits ini hasan Gharib, Hakim berkata, Hadits shahih isnad]

Hadits Ibnu Abbas : “Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali)” [HR Nasa?i dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322 No. 7337]

Perbedaan atsar (penyikapan baik dengan kata atau perbuatan) para sahabat adalah dalam menentukan jenis hukuman yang dikenakan kepada pelaku. Diantara perbedaannya adalah; membakarnya dengan api, menindihnya dengan dinding, dijatuhkan dari tempat yang tinggi sambil menimpuknya dengan batu, ditahan di tempat yang paling busuk sampai mati.

Para ulama fikih setelah menyepakati haramnya praktik homoseksual dan lesbian, mereka hanya berbeda pendapat mengenai hukuman yang layak diberlakukan kepada pelaku. Perbedaan hanya “menyakut dua hal”; Pertama: perbedaan sahabat dalam menentukan jenis hukuman, sebagaimana tersebut di atas. Kedua: perbedaan ulama dalam mengkategorikan perbuatan tersebut, apakah dikategorikan zina atau tidak? Dan itu berimplikasi terhadap kadar atau jenis hukuman yang dikenakan. [berlanjut bagian kedua: HIDAYATULLAH.COM]

*Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor di Universitas Islam Omdurman Sudan, Fakultas Syari?ah dan Qonun Jurusan Ushul Fikih. Sekarang berdomisili di Kairo Mesir.

FAKTOR - FAKTOR TERJEBAK

Terdapat beberapa faktor yang memungkinkan seseorang itu menjadi homoseksual.

Keluarga

Pengalaman /trauma di alam kanak-kanak Contohnya: Dikasari oleh ibu/bapa sehingga si anak beranggapan semua lelaki/perempuan bersikap kasar, bengis dan panas baran yang memungkinkan si anak berasa benci pada golongan itu. Predominan dalam pemilihan identiti iaitu melalui hubungan yang renggang dengan ibu bapa

Persekitaran

Contohnya: Bersangkutan dengan pergaulan dan keadaan sekeliling. Keluarga yang terlalu mengongkong anaknya. Bapa yang kurang menunjukkan kasih sayang kepada anaknya.Hubungan yang terlalu rapat dengan ibu sementara renggang dengan bapa.Kurang menerima pendedahan yang betul tentang seks dari kecil.

Mengikut pendapat ini, homoseksual bukanlah dibawa dari lahir tetapi terbina melalui pengalaman, seperti kompleks dalam keadaan hidup dan pengaruh keadaan semasa bayi, kanak-kanak, remaja dan awal dewasa.

Biologi

Homoseksual adalah keadaan pernyataan perasaan yang semulajadi menyebabkan seseorang itu mempunyai nafsu terhadap kaum sejenis. Perasaan dan nafsu tersebut terhasil disebabkan oleh bahan kimia dan hormon yang dikeluarkan dalam badan (luar kawalan). Pendapat ini masih lagi dalam dibincangkan dan tidak dapat dibuktikan secara menyeluruh oleh pakar dalam bidang ini.

Dorongan individu

Rentetan dari proses pembelajaran sewaktu kecil.Berkurangnya rasa kepercayaan terhadap ibu dan saudara perempuan (lesbian) dan sebaliknya (gay) Kurang percaya pada potensi seksual yang ada pada diri sendiri.

Selain itu tarikan individu terhadap homoseksual, menjadi keinginan perasaan yang menyetujui untuk mendominasi hawa nafsu. Harga diri tidak boleh diperolehi dari hubungan lain. Ketakutan pada kaum bertentangan jenis menyebabkan tindak-balas erotik yang pasif.

Aktiviti seksual

Sekiranya individu merasakan pengalaman homoseksual pertama menyeronokkan, individu akan meneruskan aktiviti homoseksual secara berterusan. Pendedahan berleluasa terhadap aktiviti homoseksual akan membuatkan individu semakin selesa dengan situasi sedemikian.

JENIS - JENIS HOMOSEKSUAL

1.Homoseksual Terangan (Blatant Homosexual)

Jenis homoseksual yang sejati, individu secara terbuka dan terang-terangan menerima identiti diri sebagai homoseksual, bersedia unutk mempamerkan identiti homoseksual pada masyarakat serta melakukan kegiatan homoseksual.

2.Homoseksual TerdesaK (Desperate Homosexual)

Biasanya jenis ini sudah bernikah tetapi tetap menjalani kehidupan homoseksual secara bersembunyi dari pengetahuan pasangan.

3.Homoseksual Berkeadaan (Situational Homosexual)

Adakalanya seseorang berada pada sesuatu keadaan sehingga individu itu bertingkah laku seperti homoseks seperti keadaan di dalam penjara, asrama dan sebagainya. Setelah keluar, selalunya mereka akan kembali menjadi hetroseksual.

4.Biseksual

iaitu melibatkan diri dalam aktiviti homoseksual dan juga hetroseksual. Selalunya berlaku pada mereka yang sudah bernikah. Mereka berasa seronok melakukan hubungan sejenis dan berlawanan seks.

5.Homoseksual Selesa (Adjusted Homosexual).

Adakalanya seseorang berada pada sesuatu keadaan sehingga individu itu bertingkah laku seperti homoseks seperti keadaan di dalam penjara, asrama dan sebagainya. Setelah keluar, selalunya mereka akan kembali menjadi hetroseksual

PENGAJARAN DARI KISAH KAUM NABI LUTH A.S

Apakah pandangan syarak terhadap amalan ini dan apakah hukumnya terhadap mereka yang melakukannya? Amalan sihaq atau musahaqah merupakan amalan terkutuk di dalam Islam. Tidak ada ulama’ yang mengatakan ianya sesuatu yang halal di sisi hukum syara’. Pengharamannya merujuk kepada firman Allah dalam surah al-Mu’minun, ayat 5-6 dan sebuah Hadis Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: Seorang lelaki janganlah melepaskan nafsunya kepada seorang lelaki di dalam sehelai kain dan seorang perempuan janganlah melepaskan nafsunya kepada seorang perempuan dalam sehelai kain (Nail al-Autar, 6:16). Maksud Hadis ini amat jelas menunjukkan pengharaman liwat dan musahaqah di antara seorang perempuan dengan pasangan perempuannya. Sebahagian ulama’ berhujah tentang pengharamannya dengan sebuah Hadis lain, iaitu sabdanya yang bermaksud: Apabila seorang lelaki mendatangi seorang lelaki (melakukan hubungan seks) maka kedua-duanya adalah penzina dan apabila seorang perempuan mendatangi seorang perempuan maka kedua-duanya adalah penzina (Nail al-Autar, 7:30).

Mari kita ambil pengajaran yang Allah rakamkan dalam al Quran berkenaan kisah nabi Luth a.s. dan umatnya. Salah satu adzab Allah paling dahsyat yang dikisahkan dalam Al-Quran adalah tentang pemusnahan kaum Nabi Luth. Mereka diadzab Allah karena melakukan praktis homoseksual. kaum Nabi Luth ini tinggal di sebuah kota bernama Sadum. Sehingga kerana itu amalan keji homoseksual hingga kini kerap disebut juga sodomi. Penelitian arkeologis berkenaan kisah ini memberikan penerangan bahawa, kota Sadum berada di tepi Laut Mati (Danau Luth) yang terbentang memanjang di antara perbatasan Israel dan Jordan. Dengan sebuah gempa volkano yang diikuti letusan lava, kota tersebut Allah runtuhkan, lalu terbalik dan tertangkup menyembah bumi dan masuk ke dalam kawasan atau tapak Laut Mati.

Kebiasaannya bagi orang yang terjatuh, maka bahagian atas atau kepala dahulu yang tiba ke tanah,, lalu diikuti badan dan kaki. Begitu juga kota Sadum, ketika ia diruntuh dan dihempaskan oleh Allah, bahagian atas kota itu dahulu yang menjunam ke bawah yakni ke dalam laut, sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Quran dalam surah Hud ayat 82, Bermaksud, maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terbalik tertangkup sehingga yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi).

Mudah-mudahan, kita mengambil iktibar lebih-lebih lagi Laut Mati di Jordan merupakan bukti terbesar dan diakui bahawa perbuatan dan amalan keji ini melanggar sunnatullah atau ketetapan Allah buat makhlukNYA di muka bumi....baraklallhu li walakum....

PERINGKAT HOMOSEKSUAL

Terdapat beberapa peringkat homoseksual:

  • TERAHSIA

Juga dikenali sebagai CLOSET. Bermula sebagai ‘Homoseksual Sulit’.Individu homoseksual yang menjalani kehidupannya dengan berpura-pura seperti orang lain, tidak bahagia dan tertekan oleh polisi sosial yang diterima oleh masyarakat. Individu homoseksual ini cuba menyesuaikan diri (accommodate) dengan norma-norma masyarakat dalam masa yang sama melakukan kegiatan homoseksual secara rahsia.

  • PENDEDAHAN AWAL

Pernyertaan dan eksperesi diri kepada masyarakat. Individu ini memberi respon terhadap masyarakat heteroseksual dengan menonjolkan kehidupan homoseksual. Menerima hakikat bahawa diri lebih berminat kepada kaum sejenis.

  • PERKONGSIAN

1. Tahap Perkongsian Pertama

Kemampuan untuk berkongsi perasaan sebagai homoseksual pada keluarga dan rakan-rakan.Mewujudkan perhubungan yang lebih stabil dan berjangka sederhana atau panjang

2. Tahap Perkongsian Kedua

Menilai secara terperinci akan kebaikan dan keburukan perkongsian secara terbuka. Bersedia untuk menerima sebarang akibat. Apabila diterima, ini akan membina percaya diri dan memberi kesan positif dan sekira sebaliknya. Ia akan memberi kesan yang negatif.

  • KOMUNITI HOMOSEKSUAL

Kelompok homoseksual akan berkumpul sesama sendiri dan membentuk sebuah masyarakat yang mahu menerima mereka seadanya. Di sini mereka diterima, diperlakukan seadilnya dan berkongsi bersama-sama pengalaman dan memahami antara satu sama lain

FENOMENA HOMOSEKSUAL - BERNAMA


Adakah percambahan pembukaan kelab-kelab gay di seluruh negara sebagai petanda kewujudan kelompok homoseksual di negara ini?


Lazimnya istilah homoseksual merujuk kepada kecenderungan hubungan seksual sesama jantina iaitu lelaki dengan lelaki atau perempuan dengan perempuan.

Homoseksualiti biasanya akan dibandingkan dengan heteroseksualiti dan biseksualiti.

Secara tradisi, istilah gay digunakan untuk merujuk kepada lelaki homoseksual sementara lesbian bagi merujuk kepada wanita golongan ini.

Di Barat, kelakuan atau tarikan seksual sesama jantina ini menular bebas sehinggakan menjadi satu gaya hidup.

Hari ini, gaya hidup gay yang lebih cenderung dikaitkan kepada hubungan lelaki sesama lelaki turut menjadi ikutan di negara ini. Adakah petanda kewujudan kelompok ini dengan bercambahnya pembukaan kelab-kelab gay di seluruh negara?

Kosmo! baru-baru ini mendedahkan kemunculan komik gay yang dijual secara terang-terangan. Meskipun harganya mencecah RM50 senaskhah, laporan itu menyebut komik berkenaan laris dibeli oleh golongan muda yang berumur 25 tahun ke atas.

Antara kelab gay dan komik gay, mungkin ada yang bertanya apakah gaya hidup ini sudah diterima masyarakat Malaysia?

Pengamal perubatan yang juga Setiausaha Agung Persatuan Pengguna Islam Malaysia (PPIM), Datuk Dr. Maamor Osman berkata, trend amalan homoseksual di negara ini semakin membimbangkan.

Penularan kecenderungan hubungan sesama sejenis ini dapat dilihat dengan wujudnya kelab-kelab gay di seluruh negara.

Dalam al-Quran katanya, menyebut Allah swt membalas dengan menghancurkan umat Nabi Luth yang mengamalkan hubungan homoseksual.

"Tidak ada jalan pengampunan kepada perbuatan yang songsang sehingga ia menimbulkan kemurkaan Allah swt yang kita tahu bersifat penyayang lagi amat mengasihani," kata Maamor.

Fenomena homoseksual yang bertentangan dengan fitrah semula jadi manusia perlu ditangani dengan tegas.


Dari segi kesihatan, beliau menyatakan, amalan homoseksual yang melibatkan hubungan seksual menerusi dubur menimbulkan pelbagai risiko kepada setiap pelakunya dan pasangannya.

"Setiap organ tubuh manusia dilengkapi dengan sistem yang cukup sempurna. Ini termasuk darah, saraf, imuniti dan sistem-sistem lain yang sesuai fungsinya. Sistem peranakan, alat kelamin wanita dan hormon adalah berbeza daripada orang lelaki.

"Ada sel-sel khusus untuk memastikan fungsi tersebut dapat dilaksanakan dengan penuh kesempurnaan. Malangnya, apabila manusia sesat daripada sistem tersebut dan melakukan perkara-perkara songsang," jelasnya.

Menurut beliau, sistem saluran usus perut yang bermula dari mulut dan berakhir di dubur dilengkapi dengan sel-sel yang sesuai untuk penyerapan dan pencernaan makanan.

"Sistem pergerakan otot yang berirama ini dikenali sebagai peristalsis yang bergerak dari atas ke bawah. Apabila sistem ini disongsangkan, misalnya menerusi hubungan seksual menerusi dubur akan mengundang kerosakan kepada fizikal, emosi dan kerohanian.

"Memandangkan sistem itu tidak disediakan untuk tujuan yang songsang, ia mengundang pelbagai penyakit seperti AIDS, hepatitis, buasir dan jangkitan bakteria dalam darah," jelas Maamor.

Beliau berkata, hubungan seks songsang itu juga boleh mengundang pelbagai penyakit yang ditakrifkan penyakit jangkitan kelamin (STD).

Sementara itu, Presiden Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), Yusri Mohamad memberi pandangan bahawa homoseksual perlu dilihat sebagai satu kesalahan jenayah dan moral yang serius.

"Tidak ada bezanya homoseksual ini dengan perbuatan zina. Untuk itu, amalan homoseksual ini perlu dibanteras. Langkah pencegahan perlu diambil dan hukuman perlu dilaksanakan," kata Yusri.

Menurut beliau, pintu-pintu yang boleh membawa seseorang itu kepada gejala yang tidak bermoral itu juga perlu ditutup.

"Kalau ada tempat atau pusat yang dikenal pasti menjadi pusat kegiatan atau aktiviti kelompok homoseksual, tindakan perlu diambil segera. Mungkin dengan menarik balik lesen perniagaan.


"Laman web atau majalah yang mungkin ada kecenderungan atau memberi ruang untuk mesej yang berbau homoseksual juga perlu dipantau dan tindakan yang wajar dikenakan," katanya.

Yusri juga berkata, pihak berkuasa boleh melakukan operasi pencegahan maksiat homoseksual seperti yang lazimnya digerakkan untuk membanteras penagihan dadah terutama di pusat-pusat hiburan.

Dalam hal ini, tambahnya, kewajarannya ialah untuk kerajaan bersikap tegas dan tidak terikut-ikut dengan negara Barat yang cenderung memberi kebebasan kepada amalan berkenaan.

Yusri juga mahu pihak berkenaan memantau artis atau pelakon yang menonjolkan watak-watak 'lembut' dan seumpamanya.

"Kita tak kata semua yang lembut itu gay tetapi ramai yang terlibat dengan songsang adalah daripada kumpulan tersebut.

"Kita tak mahu mereka ini ditonjol atau dijulang sebagai contoh," tegasnya.

Jelasnya, fenomena homoseksual ini yang bertentangan dengan fitrah semula jadi manusia perlu ditangani dengan pantas dan tegas. - Bernama

1

PERSPEKTIF MASYARAKAT

Keruntuhan Moral dan Tamadun

  • Memusnahkan kekuatan moral masyarakat

Penekanan diberikan pada golongan homoseksual yang melakukan hubungan seksual di luar tabi’i. Dipercayai aktiviti sedemikian mencacatkan sahsiah budaya dan kesatuan masyarakat

  • Tidak perlu diberi hak-hak istimewa

Golongan ini sering dikaitkan dengan sesuatu yang tidak normal, berkaitan dengan tingkahlaku syaitan dan tidak layak menerima apa-apa hak dari masyarakat. Mereka sering dipinggirkan tanpa penjelasan yang kukuh

  • Mencerminkan kemunduran masyarakat

Apabila masyarakat menjadi terlalu terbuka, segala perbuatan yang di luar tabi’I manusia akan timbul dan ini menjadi faktor penggalak pada keruntuhan sahsiah masyarakat. Masalah keruntuhan akhlaK akan berleluasa

  • Pembunuh institusi kekeluargaan

Masyarakat akan menjadi tidak sihat dan unsur-unsur negatif akan disalurkan dalam institusi kekeluargaan homoseksual. Ini mengurangkan populasi naturan dalam masyarakat.

Penyakit Wabak

  • Penyakit Sosial

Mereka dipertanggungjawab terhadap gelaja kurang sihat dan kepelbagaian masalah kesihatan seperti AIDS dan STD. Walaupun jangkitan AIDS dan STD disebabkan oleh pelbagai faktor, tetapi golongan homoseksual sering dijadikan penyebab utama.

Diskriminasi

Sering dianaktirikan dalam pelbagai aspek.

Budaya: Kegiatan harian (walaupun sama seperti orang lain) tidak dapat diterima oleh masyarakat. Dianggap janggal setiap kali melakukan sesuatu tugas walau tidak berkaitan dengan identiti homoseksual atau hetroseksual

Sosial : Dianggap sebagai ‘orang asing’ dan tidak mendapat layanan seperti orang lain sering dilihat sebagai ‘pelik’ dan tidak dapat diterima dalam kegiatan luar.

Tidak ramai golongan homoseksual yang memegang jawatan tinggi di mana-mana jabatan, yang berani untuk menonjolkan diri pada masyarakat, yang mampu pertahankan kelebihan yang ada pada diri dan sebagainya. Disebabkan pandangan masyarakat, kebolehan dan kelebihan yang ada pada diri mereka tidak diiktiraf.